Catatan bp: sejarah naik-turunnya presiden Indonesia tak lepas dari peran AS. Pertama, Soekarno. Ia turun karena terlalu berani kepada AS. Kedua, Soeharto. Ia naik karena dukungan AS untuk menjatuhkan Soekarno dan menumpas komunis (ketika itu komunis adalah musuh besar AS). Soekarno jatuh karena AS. Mengapa? Karena Soekarno mulai condong ke islam (islam menjadi musuh barunya AS setelah komunis dianggap runtuh). Ketiga, Habibie. Ia sudah jelas, tokoh ICMI dan lulusan Jerman! Keempat, Gus Dur. Sebenarnya ia sangat disukai AS tapi karena dukungan politiknya lemah tentu berbahaya untuk keamanan kepentingan-kepentingan AS. Kelima, Megawati. Sebenarnya ia juga relatif dekat dengan AS tapi karena nasionalismenya dan belakangan rajin ke Soviet/China, tentu AS kurang suka. Keenam, SBY. Banyak pihak menganggap ia boneka AS. Betapa tidak, jubirnya sangat AS, penasehatnya oleh Munarman dianggap sebagai orang pro AS, mentrinya ada yang mantan direktur IMF. Kebijakan pemerintah SBY pun sangat liberal (liberalisasi pendidikan, ekonomi, dll.)
Obama di Mata Para Kaki Tangan
Tiba-tiba kita dikejutkan ‘politik aparhaid’ ketika Obama memenangi pemilihan presiden Amerika Serikat. Orang-orang menyambut gembira, termasuk Indonesianis yang pro Barat dengan tampilnya si kulit hitam Obama jadi presiden negeri polisi kedua itu. Ada kesan yang sangat kuat bahwa kulit hitam akan lebih baik dari kulit putih?! Padahal baik tidaknya seseorang tidak bergantung pada apa warna kulitnya atau bentuk rambutnya!
Tiba-tiba kita juga dikejutkan oleh harapan-harapan dan kebanggaan-kebanggaan semu seolah orang yang pernah tinggal selama empat tahun di Jakarta dan sempat bersekolah di SD Menteng itu setelah menjadi presiden sebuah negeri imperialis akan ‘ingat’ dan ‘berbaik hati’ terhadap negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini. Padahal, pagi-pagi ketika ia mulai memerintah, ia tak memiliki empati sedikitpun terhadap ribuan rakyat Palestina yang mati oleh kebrutalan Israel dengan mengatakan: “Amerika akan tetap membela dan melindungi bangsa Israel!”
Tiba-tiba kita juga disadarlan bahwa yang akan diuntungkan oleh menangnya Obama tak lain adalah kaki-tangan Amerika di Indonesia. Mereka tentu mengganggap wajah Obama akan dipandang ‘lebih ramah’ oleh islam hanya karena Obama berkulit hitam dan pernah bersekolah di Jakarta. Kondisi itu diyakini akan memperbaiki citra Amerika Serikat di mata negeri-negeri jajahannya, termasuk Indonesia. Dengan begitu, para kaki-tangan (antek-antek) Amerika akan bekerja lebih ringan dalam mengelabui rakyat Indonesia.
Begitupun ‘kebanggaan semu’ menghinggapi kaki-tangan Amerika itu ketika Hillary Clinton berkunjung ke Indonesia. Mereka mengolah kehadiran Hillary ke Jakarta sebagai sebuah kehormatan karena Indonesia ‘dipandang’ penting.
Padahal diplomasi Hillary, hanyalah bentuk pengelabuan ‘memijam (memperalat) Indonesia’ untuk meredakan kemarahan dunia islam terhadap Amerika dan Israel.
Yang bisa kita petik dari menangnya Obama dan kunjungan Hillary ke Jakarta adalah kita semakin tahu banyak tokoh yang terindikasi menjadi kaki-tangan AS, selain GM! Maka waspadalah!
Obama di Mata Para Kaki Tangan
Tiba-tiba kita dikejutkan ‘politik aparhaid’ ketika Obama memenangi pemilihan presiden Amerika Serikat. Orang-orang menyambut gembira, termasuk Indonesianis yang pro Barat dengan tampilnya si kulit hitam Obama jadi presiden negeri polisi kedua itu. Ada kesan yang sangat kuat bahwa kulit hitam akan lebih baik dari kulit putih?! Padahal baik tidaknya seseorang tidak bergantung pada apa warna kulitnya atau bentuk rambutnya!
Tiba-tiba kita juga dikejutkan oleh harapan-harapan dan kebanggaan-kebanggaan semu seolah orang yang pernah tinggal selama empat tahun di Jakarta dan sempat bersekolah di SD Menteng itu setelah menjadi presiden sebuah negeri imperialis akan ‘ingat’ dan ‘berbaik hati’ terhadap negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini. Padahal, pagi-pagi ketika ia mulai memerintah, ia tak memiliki empati sedikitpun terhadap ribuan rakyat Palestina yang mati oleh kebrutalan Israel dengan mengatakan: “Amerika akan tetap membela dan melindungi bangsa Israel!”
Tiba-tiba kita juga disadarlan bahwa yang akan diuntungkan oleh menangnya Obama tak lain adalah kaki-tangan Amerika di Indonesia. Mereka tentu mengganggap wajah Obama akan dipandang ‘lebih ramah’ oleh islam hanya karena Obama berkulit hitam dan pernah bersekolah di Jakarta. Kondisi itu diyakini akan memperbaiki citra Amerika Serikat di mata negeri-negeri jajahannya, termasuk Indonesia. Dengan begitu, para kaki-tangan (antek-antek) Amerika akan bekerja lebih ringan dalam mengelabui rakyat Indonesia.
Begitupun ‘kebanggaan semu’ menghinggapi kaki-tangan Amerika itu ketika Hillary Clinton berkunjung ke Indonesia. Mereka mengolah kehadiran Hillary ke Jakarta sebagai sebuah kehormatan karena Indonesia ‘dipandang’ penting.
Padahal diplomasi Hillary, hanyalah bentuk pengelabuan ‘memijam (memperalat) Indonesia’ untuk meredakan kemarahan dunia islam terhadap Amerika dan Israel.
Yang bisa kita petik dari menangnya Obama dan kunjungan Hillary ke Jakarta adalah kita semakin tahu banyak tokoh yang terindikasi menjadi kaki-tangan AS, selain GM! Maka waspadalah!
0 Response to "Obama di Mata Para Kaki Tangan"